Duhai Keluarga Idaman

****

Wanita ini adalah wanita pendamba surga. Kami dapati bahwa dia adalah wanita yang menenangkan hati sang kekasih. Dia temani belahan jiwanya dalam suka, bahagia, duka dan nestapa. Kami saksikan pula bahwa dialah wanita bijaksana nan cerdik. Pula, ia adalah keturunan bangsawan kaya dan menjadi incaran banyak lelaki.


Percikan Kerinduan dari Sucinya Hati. . .

Seperti wanita umumnya, kami dapati bahwa ia amat merindukan seorang sosok yang akan menjadi teman hidupnya. Ia membutuhkan sosok yang akan menemaninya mengarungi bahtera kehidupan.Berjumpalah wanita ini dengan lelaki dengan kepribadian yang diidam-idamkan wanita. Lelaki yang ia temui begitu agung lagi berakhlak mempesona. Lelaki tersebut tidak seperti laki-laki yang ia temui pada kaumnya. Lelaki itu begitu menenangkan kala dipandang dan tutur katanya jujur dan menarik perhatian. Berwibawa dan menjaga harga diri.

Berkecamuklah rasa di dada. Tersemburatlah gelora asmara. Langit-langit hati sang wanita tengah menghujankan bibit-bibit cinta. Sebuah rasa yang tak diundang dan tak ingin berlalu begitu saja.


Namun begitu, terbesit pikiran yang mengusiknya. Akankah pemuda dengan kebeningan hatinya tersebut mau menikahinya yang telah berumur kepala empat?Saat bingungnya mendengung, kami dapati rekan wanitanya datang mengunjungi. Rekannya mampu menangkap semburat rasa yang terpendam hingga wanita itu mencurahkan kegalauan hati dan perasaannya. Rekannya pun berhasil menenangkannya bahwa ia adalah wanita cantik dan memiliki kemuliaan nasab. Siapakah gerangan lelaki yang tak mau melamar wanita idaman sepertinya? Bergegaslah rekan wanita itu menemui sang lelaki seperti yang dipinta sang wanita. Setelah bertemu, rekan wanita tersebut berkata kepada laki-laki itu:


“… apa yang menyebabkan kau tidak menikah?”


Lelaki itu adalah orang yang fakir lagi yatim piatu. Sang ayah meninggal ketika ia dalam kandungan. Dan ketika masih kecil, ia pun ditinggal meninggal oleh sang ibu. Ia menjawab:


“tidak ada sesuatu yang bisa saya gunakan untuk menikah”.


Rekan wanita tersebut tersenyum sambil bertutur:


“sekiranya engkau diberi dan diminta menikahi wanita yang berharta, rupawan, mulia dan cukup, apakah engkau mau menerimanya?”


Laki-laki itu kemudian berkata:


“siapa?”


Rekan wanita itu kemudian menyebutkan nama sahabatnya yang tengah dirundung oleh besarnya pengharapan. Wajar memang karena wanita begitu dominan dalam hal perasaan. Gayung pun bersambut indah. Setelah mendapat nama wanita yang memang ia sangat kenal, lelaki tersebut kemudian berucap:


“kalau dia setuju maka saya terima”.


Subhanallah..Lampu hijau terlihat jelas menandakan akan dimulai proses selanjutnya. Mendengar ucapan tersebut, rekan wanita itu pun kembali menemui sahabatnya untuk menebar wewangian kabar bahagia yang baru saja didengarnya.Betapa riangnya wanita kita ini setelah mendapat berita.


Bak sejuknya tanah gersang yang kembali subur setelah dentuman hujan, bak cerahnya dedaunan muda yang indah menghijau bersemi, bak syahdunya kicauan burung menyambut mentari di pagi nan cerah, begitulah pula datangnya kuncup bahagia di hati sang wanita yang setelah menanti lalu mendengar jawaban lelaki itu. Terkikis sudah senandung cemas yang terbalut penuh harap.


Aduhai pena kami pun semakin bersemangat menarikan goresannya. Sang lelaki pun mengabarkan kepada paman-pamannya agar segera melamar sang wanita, walaupun sang wanita telah menjanda. Iya benar, wanita itu telah menjanda. Suami pertamanya meninggal kemudian wanita itu cerai dengan suami kedua. Namun itu bukanlah sebuah aib. Bukan pula sebuah cela. Adalah skenario dari Allah yang telah menetapkan yang terbaik bagi hamba-Nya. Tak ada yang mampu keluar dari rel takdir.


Rajutan Tali Pernikahan Nan Pernuh Berkah. . .


Paman lelaki itu datang melamar sang wanita di hadapan pamannya. Maklum, ayah wanita kita ini telah wafat. Mahar dan penentuan akad nikah pun dibicarakan. Disepakati mahar kepada wanita itu berupa lembu dua puluh ekor.Di hari pernikahan, ijab kabul tengah berkumandang.

Lengkaplah sudah kebahagiaan yang menyelimuti sepasang kekasih. Sempurnalah mekar indah pucuk asmara. Telah tiba saatnya biduk harus berlayar di samudera kehidupan. Terhempas sudah karang-karang penantian yang bertengger di taman hati. Adakah jalinan yang indah selain jalinan dan untaian tali pernikahan? Adakah letupan-letupan cinta yang lebih menenteramkan hati sepasang muda-mudi selain dalam ikatan ini? Adakah hubungan yang lebih menabung kebaikan selain hubungan sah secara syar’i?


aduhai, kami telah tertampar. Kami tertampar pedas oleh pena kami sendiri agar bersegara menyempurnakan separuh dien.


Saatnya Mengayuh Biduk di Samudera Kehidupan. . .


Dan wanita itu pun benar-benar menunjukkan dirinya sebagai wanita yang piawai me-manage perasaan dan alur lalu lintas permasalahan yang mungkin menyerang masing-masing pasangan. Ia tunjukkan sayang nan cinta kepada pangeran hatinya. Kami dapati bahwa ia adalah wanita dengan mata air kasih yang bercucuran penuh keseejukkan, penuh kelembutan dan kebaikan.Dialah kekasih hati yang menjadi tumpahan berkeluh kesah. Dialah sosok yang nyaman sebagai sandaran bagi sang suami kala raga begitu letih mengarungi dunia luar rumah sekaligus gelanggang dakwah. Sungguh begitu agung nan mulianya wanita ini. Cara pandangnya luas dengan visi yang jauh ke depan. Begitu membantu sang suami dari segi harta maupun spirit.


Suaminya pun adalah orang pilihan yang telah ditetapkan Allah. Kami dapati bahwa dia adalah lelaki yang agung nan mulia pula. Begitu banyak ujian yang lelaki ini alami hingga menjadikan sedih dan gulana. Begitu banyak cercaan dan siksaan yang ia hadapi dari orang-orang yang amat membencinya. Begitu banyak makar dan propaganda untuk membunuhnya. Dan memang demikianlah sunatullah bagi orang-orang yang menyebarkan agama Tuhannya. Akan selalu ada badai yang siap menghantam perjuangan di jalan keimanan.


Ia menyaksikan darah mengalir. Ia menyaksikan pedang terlalu sering beradu. Ia menyaksikan jasad-jasad terbujur kaku. Kami dapati lelaki itu mengalami beberapa kemenangan dan pula kekalahan. Ia saksikan kawan-kawannya terbunuh.


Dialah lelaki yang menebarkan wewangian pesona agama kita yang mulia. Dialah sosok yang tiada pamrih. Tiada ingin dipuja atau dipuji. Dialah sumber kebaikan. Duh, mata pena kami berkaca dan bergetar menuliskan tentangnya. Pantas saja Allah telah menganugerahkan wanita mulia nan berbudi luhur teruntuk lelaki itu. Allah mempersatukan dua kemuliaan untuk memenangkan agama-Nya di muka bumi.


Allahu akbar. .. Allahu akbar…


Begitu mulianya dua insan itu. Pena kami kembali membulirkan air matanya karena kemuliaan mereka. Wahai pena. Kabarkanlah bahwa kami begitu rindu untuk bertemu.


Telah Tiba Saatnya Berpisah. . .


Kami kabarkan kembali bahwa wanita kita ini adalah nikmat Allah yang besar bagi sosok lelaki itu. Mereka arungi bahtera cinta selama seperempat abad. Telah berlalu sejuta kenangan. Wanita itu menghibur kecemasan suaminya, memberikan dorongan di saat-saat paling kritis, menyokong penyampaian risalah Tuhannya dan selalu membela pujaan hatinya dengan jiwa, raga dan hartanya.Telah tiba saatnya kita akan berpisah dengan wanita berbudi luhur itu... Telah tiba saatnya wanita itu harus meninggalkan sang kekasih karena malaikat maut sedang melaksanakan titah Rabb-Nya.


Dan selanjutnyaaaaaa... Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. . .


Selamat jalan wahai wanita yang melambangkan kesetiaan. .


Selamat jalan jiwa yang tenang. .


Selamat jalan duhai wanita yang berhati lembut di tengah lembah kekerasan. .


Selamat jalan wahai wanita teladan yang mengagumkan. .


Selamat jalan wahai engkau yang membela kemuliaan islam. .


Selamat jalan engkau wahai istri yang arif nan bijaksana. .


Selamat jalan wahai engkau ibunda kaum muslimin, KHADIJAH BINTI KHUWAILID. .


Wahai Bunda,.Kepergianmu telah meninggalkan duka dan sedih bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.. Bagaimana tidak, suka yang terkomposisi duka telah dicicipi bersama di arena kehidupan. Sungguh pilu hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang ditinggal belahan jiwanya..


Tahukah engkau wahai Bunda, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyanjungmu di depan ‘Aisyah sehingga ‘Aisyah pun cemburu. ‘Aisyah bertutur di tengah cemburu yang menggebu nan melanda:


“tidaklah aku cemburu atas seseorang dari istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana kecemburuanku atas Khadijah, sedangkan aku belum melihatnya sama sekali. Tetapi Rasul sering menyebutnya dan kadang-kadang beliau menyembelih seekor kambing lalu memotong-motongnya kemudian mengirimkannya kepada sahabat-sahabat Khadijah. Sehingga kadang-kadang aku berkata kepada beliau:


“sepertinya di dunia ini tak ada wanita kecuali Khadijah.” [1]


Subhanallah. Begitu cintanya Nabi kami padamu, wahai Ummul Mukminin. Dan memang engkau amat pantas mendapatkannya walau ‘Aisyah memiliki kecantikan dan kepandaian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memenuhi janjinya bahwa beliau tak akan menduakanmu selama engkau masih hidup dan walau usiamu telah lanjut. Kami mengetahui pula bahwa engkau bertabur putri-putri mulia yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fathimah. Mereka adalah pembela setia suamimu. .Begitu abadi cintanya.


Engkau wahai Bunda, seperti yang kami dapati dalam kitab Nisa’ Fii Hayati al-Anbiya bahwa Rasulullah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata sambil memujimu:


“wanita penghuni surga yang paling mulia adalah Khadijah binti Khuwailid.” [2]


Pula dalam kitab yang lain yaitu Nisaa’ Haular Rasul war Radd ‘ala Muftariyaat al-Musytasyriqin , kami dapati pula pujian untukmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


“sebaik-baik wanita di bumi di masanya adalah Maryam binti Imran dan sebaik-baik wanita di bumi di masanya adalah Khadijah binti Khuwailid” [3]


Wahai Bunda, keteguhanmu mendapat limpahan karunia dari Allah. Engkau memiliki andil besar dalam perubahan peradaban bagi para wanita.

Inilah surga Allah menaruh rindu untukmu. Allah dan malaikat Jibril pun menitipkan salam hangat dari langit ke-tujuh untukmu. Dan kepadamu, Allah telah menyediakan rumah istana dari permata. .


subhanallah...


Kami dapati dalam kitab ar-Rahiq al-Makhtum bahwa Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“wahai Rasulullah. Inilah khadijah, dia telah datang membawa bejana, di dalamnya ada lauk pauk, makanan atau minuman. Sekiranya dia nanti mendatangimu maka sampaikan salam Rabbnya kepadanya serta beritakan padanya kabar gembira perihal istana untuknya di surga yang terbuat dari mutiara, yang tiada kebisingan maupun rasa lelah di dalamnya.” [4]


Akhirnya. . .


selamat menikmati rumah istana dari mutiaraselamat jalan ibunda orang-orang beriman. . . Biarlah kami senantiasa mengenangmu di kedalaman qolbu. . . Menyerap semangatmu yang terbit seiring fajar. . . Dan lihatlah namamu ada dalam benak setiap muslimah. . . Walaupun tak sesempurnamu, kami harap wanita-wanita kami mampu merengkuh keteladananmu di jalan ilmu. . .


Sekian,


FACHRIAN ALMER AKIERA


(Yani Fachriansyah Muhammad as-Samawiy)


Mataram, di siang nan cerah secerah hati, ilmu dan akhlak orang-orang yang beriman.


(26 rajab 1431 H/ 09 juli 2010 M).


Subhanaka allahumma wabihamdika asyhadu alla ila ha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika..

________


Endnotes:

[1] Lihat takhrijnya dalam kitab Nisaa’ Haular Rasul War Radd ‘ala Muftariyaat al-Musytasyriqin hal. 110-111

[2] HR. ahmad dan al-Hakim. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah no: 1508

[3] HR. al-Bukhari (IV/230)[4] HR. al-Bukhari (I/539)

Referensi:

1. Kitab ar-Rahiq al-Makhtum karya syaikh shafiyyurrahman al-Mubarakfury . Penerbit Darul haq (2008), Cetakan X halaman 74-75 dan 161-162.

2. kitab Nisaa’ Haular Rasul War Radd ‘ala Muftariyaat al-Musytasyriqin karya Syaikh Mahmud Mahdi al-Istambuli dan Syaikh Musthafa Abu an-Nashr asy-Syalabi . Penerbit Maktabah Salafy Press (2009), cetakan VII halaman 35-46 dan 110.

3. kitab Nisa’ Fii Hayati al-Anbiya karya Syaikh Ibrahim Mahmud Abdul Radi . Penerbit Malmahira (2009), Cetakan I halaman 357-369.

4. Buku Seorang Ibu: Sebuah Dunia Penuh Cinta karya Amatullah Shafiyyah . Penerbit Gema Insani Press (2002), Cetakan I halaman 24-30.

Dikutip dari tulisan Saudaraku Seiman yang berada di kota seberang nan jauh di sana....

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tentang mind set

Pernah ku bermimpi untuk merubah dunia, tahun berganti tahun sepertinya mimpiku sulit untuk ku wujudkan, akhirnya kuputuskan utuk merubah mimpiku utuk merubah bangsaku saja. Tahun berganti tahun sepertinya mimpiku sulit untuk ku wujudkan, akhirnya kuputuskan utuk merubah mimpiku untuk merubah kotaku saja, tetapi sepertinya mimpiku sulit untuk ku wujudkan, akhirnya ku putuskan lagi untuk merubah mimpiku untuk merubah keluargaku saja, tetapi sepertinya pun sulit juga untuk terjadi. Ketika rambut mulai memutih, aku baru menyadari. Mengapa tidak kurubah diriku saja???!. Kalau untuk merubah diriku saja pasti aku bisa, kemudian dari diriku kemudian keluargaku, kotaku, bangsaku dan akhirnya ku ubah dunia dengan tanganku.


Perubahan yang sejati ialah bukan berada pada perubahan fisik melainka perubahan mind set kita terhadap sesuatu, memimpikan merubah dunia ialah hal yang mustahil ketika diri ini belum berubah padahal dari diri inilah mimpi itu dibangun. Jika engkau ingin semua orang itu harum, jangan semua orang kau suruh memakai parfum (meminta orang lain melakukan perubahan) tetapi mudah saja kau oleskan saja parfum tadi tepat dibawah hidungmu (engkau lah yang melakukkan perubahan) Perubahan sejatinya tidak dapat dipaksa dari lua, tetapi merupakan revolusi kesadaran yang lahir dari dalam (inheren awareness). Bukankah sudah jelas bahwa sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum sebelum mereka merubah keadaannya sendiri (QS.13:11). Dan ketika seseorang bertanya tentang hijrah kepada Rasul maka Beliau berpesan “ibda binafsi” mulailah dari dirimu, inilah arti dari kepemimpinan yang sebenarnya karena seorang tidak mungkin memimpin dan mengubah orang lain , bila ia tak sanggup memimpin dan mengubah dirinya sendiri.


Menurut perspektif imam Ghazali, perubahan itu membutuhkan tindakan nyata. Ilmu hanya menjadi keuatan jika ia benar-benar dikelola menjadi program dan tindakan nyata yang mendatangkan kebaikan bagi orang lain. Pada tahap ini, tindakan menjadi faktor utama dan kekuatan yang palin utama, karena beribu konsep tidak akan merubah dunia atau diri sendiri sekalipun bila tidak ada tindaka untuk mengaplikasikannya dalam sebuah tindakan, satu tindakan lebih berarti dari beribu konsep.

Selamat berubah,

“ taburkanlah ide maka petiklah perbuatan, taburkanlah perbuatan maka petiklah sebuah kebiasaan, taburkanlah kebiasaan maka petiklah sebuah karakter”.


Ramdhani Purnomo (fisika UNJ)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tentang niat

Bulan haji baru saja berlalu namun meninggalkan hikmah besar di tahun ini, berawal dari kisah nyata seseorang. Pak Aziz namanya beliau ialah mantan seorang petinggi di perusahaan besar namun belakangan ini beliau memutuskan untuk pensiun dini. Untuk mengisi hari-hari beliau mengembangkan usaha ternak hingga akhirnya usahanya maju. Namun menurut beliau usahanya itu hanya untuk mencari aktivitas bukan untuk materil (mungkin dari segi materi beliau sudah dapatkan). Di musim haji ini beliau pun ikut bagian dalam bursa jual-beli hewan qurban, beliau memiliki seorang pengurus kandang hewan (bapak Amir), dengan sistem bagi hasil kedua orang tersebut bekerja sama di episode ini.


Singkat cerita setelah hari tasyrik selesai ternyata hewan qurban beliau habis tanpa sisa, hanya saja ada kecelakaan kecil dalam pengantaran hewan qurban. Setelah hitung-hitungan di akhir ternyata keuntungan yang beliau dapatkan tidak lebih besar dari pak Amir, sang penjaga kandang. Beliau kecewa dan terus merenungi mengapa bisa terjadi hal demikian hingga akhirnya sakit. Dalam fase sakit inilah beliau bisa mengambil ibrah (hikmah) dari episode ini. istrinya memberikan opini, “bapak sih terlalu baik sama orang jadi seperti ini deh”. Tetapi menurut beliau bukan ini penyebabnya, sampai akhirnya beliau menemukan simpul masalah, beliau bergumam,”mungkin saya TAKABUR” . takabur karena di awal saya tidak meniatkan memelihara hewan untuk mendapatkan materi, hingga di tiap saya bertemu pembeli saya selalu mengatakan,“ini untuk nyari keringat saja kok”. Mungkin Allah mengijabah doa (niat) saya di awal yaitu untuk mencari keringat (aktivitas), hamdallah saya mendapatkan kesehatan dan aktivitas. Namun memang saya tidak meniatkan untuk mencari materi, dan kini saya menyesali apa yang tidak saya niatkan diawal.

***

Sahabat, subhanalloh pak Aziz dapat mendapatkan ibrah yang sangat luar biasa. Mungkin kita masih sering kali takabur tanpa kita sadari, berbicara dengan mudahnya apa-apa yang nantinya akan Allah uji kebenaran dari apa yang kita ucapkan. Bahkan Nabi Ibrahim pun Allah uji, tidak ujuk-ujuk Allah menguji Nabi Ibrahim dengan memerintahkan untuk menyembelih Nabi Ismail. Ternyata dahulu Nabi Ibrahim ialah orang yang sangat dermawan, hingga suatu ketika beliau pernah berucap, ”bila aku punya anak maka akan aku berikan”. Tetapi Nabi Ibrahim memiliki keimanan yang luar biasa hingga beliau mampu melewati ujian keimanan dari apa-apa yang pernah beliau katakan. Pelajaran untuk kita, sahabat tanyakan pada hati-hati kita pernahkah kita di uji tentang apa yang kita ucapkan?. Semoga kita termasuk orang-orang yang dapat mengambil pelajaran agar tidak takabur.

Luqman Abqory

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Suatu malam di sebuah cafe seorang pelawak bersiap memberikan lelucon di atas podium yang menghadap pengunjung. dengan nada santai dia berbicara dengan lagak yang lucu sehingga membuat semua pengunjung kafe tertawa terbahak-bahak. Setelah selesai, dia pun duduk di belakang podium untuk beristirahat. Dan tak berselang lama, dia berdiri dan membawakan lelucon dengan materi itu lagi, kini yang tertawa tak sebanyak yang di awal. setelah merasa cukup, pelawak duduk kembali. Setelah beristirahat sedikit, dia pun berdiri dan menyampaikan leluconnya lagi, tetapi tak satupun pengunjung yang tertawa bahkan tersenyum barang sedikit.

Kini pengunjung mulai kecewa dan ada salah satu diantara mereka berteriak meminta pelawak itu turun. dengan kepala menunduk, dia pun melangkah layu. Namun, sebelum turun dan sebelum meletakkan mikrofon, pelawak dengan santai berkata,

Jika untuk tertawa saja kita hanya sekali, lalu untuk apa kesedihan yang berulang-ulang

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

"ilmu kira-kira" dalam pendidikan

“ ibu anak saya sekarang usianya 3 tahun bu, tapi kerjaannya corat-coret kertas melulu itu kenapa yak?” Tanya orangtua kepada seorang yang belajar ilmu pendidiakan anak. “ sebentar bu saya lihat catetan teori perkembangan….” Setelah melihat seorang ahli itu mengatakan “menurut catatan saya, anak sedang mengalami masa perkembangannya bu, itu anak sedang mengembangkan motorik halusnya, arahkan saja dengan mencoret-coret bu, sediakan kertas dan pensil sebagai alat ekspresi anak tersebut”. Itulah jawaban seorang yang belajar ilmu pendidikan anak.


Yayaya… itulah fenomena yang terjadi ditengah masyarakat kita, selalu menduga-duga sebuah masalah. Kayaknya ilmu yang jujur hari ini hanyalah ilmu perakiraan cuaca yak, karena disana jelas meyebutkan, ini adalah hasil perakiraan yang menggunakan ilmu ‘kira-kira’,, hhmmm…. Tapi kenapa yak ilmu-ilmu yang lain enggan disebut dengan ilmu ‘kira-kira’?.


Hal ini pernah saya lontarkan kepada teman saya yang juga belajar dibidang yang sama, beliau sempat tidak setuju dengan pernyataan ini. dia bilang ini hanya leluconan mahasiswa saja.

Heheheheee… tunggu dulu brother insyaAllah saya akan pertanggungjawabkan kata-kata saya dengan sedikit ilmiah kok yaa walaupun sedikit, tapi kita bisa sama-sama menilai, pantas gak yak jika disebut dengan ‘ilmu perakiraan’. Hehe lucu kali yak.


Mari kita bahas…


Saya ambil contoh sejarah seorang bapak ilmu perkembangan bernama JJ Rousseau yang hidup di abad 17 M. ya beliau adalah bapak deveplomentalis. Hari ini karya beliau itu di ikuti ilmuan sekelas Montessori, piaget, dsb. Ya, namanya juga bapak deveplomentalis. Tapi yang menariknya saat saya membaca biografi beliau, wuuiiihhhh…. Kaget betul dengan kelakuan hidup beliau. Ya hal yang saya pandang itu mustahil untuk dilakukan seorang sekelas Rousseau, ternyata itu ada di dalam sejarah-nya. Hehe jadi inget penggalan lagu “….kelakuan sikucing garong”.


sebenarnya Apa sih yang dilakukan bapak deveplomentalis kita?


Dalam sejarah, beliau dibesarkan dari keluarga sederhana, ibunya meninggal saat melahirkan beliau, dan sejak itu diasuh oleh bibinya. Rousseau tumbuh menjadi anak yang pendiam, karena intervensi dari keluarga sehingga masa kecilnya dihabisakan dengan membaca novel milik ibunya. Tapi siapa sangka , anak pendiam ini saat tumbuh menjadi seorang remaja sudah mulai belajar cara menaklukan perempuan, maka sejak itu Rousseau sudah mulai menggaet perempuan2 kerajaan untuk menjadi pemasok keuangan hidupnya…. Hehehe sang ilmuan penggaet wanita.


lalu yang lebih diluar akal nalar saya adalah, usia 33 tahun, bapak deveplomentalis ini menghamili seorang budak tukang cuci.. wuuiiihhhh…. Menghamili?? dan yang lebih luar biasanya lagi, dari hasil hubungan itu didapatkan 5 anak, dan semua anak itu dibuang di depan panti Negara ( tempat pembuangan anak yang lahir bermasalah). Dan rousseau belum sempat memberikan nama anaknya… hohohoho…. Kelakuannya seorang bapak deveplomentalis… saya teringat sebuah cerita tentang bagaimana seorang ulama yang tertolak atau diragukan perawian haditsnya hanya gara-gara tidak jadi memberikan makan ke kambing. Heheheeee.. padahal sederhana banget yak, hanya tidak jadi memberikan makan kambing, tetapi hadits yang di rawikan itu langsung diragukan. ya karena ulama itu harus terjaga dalam hal-hal yang buruk, agar ilmu atau karyanya dapat berkah dari Allah. Namun jika ada orang yang sudah menghamili ditambah membuang anaknya??? Hehehe apa pantes orang ini bicara tentang anak yak??. Waahhh bisa jadi ilmu itu gak akan berkah kali yak, atau bisa jadi ilmu itu tingkat kebenarannya diragukan bahkan tidak ada kebenarannya.


Lalu dimana tentang ilmu kira-kiranya?


Naah ini, dalam sejarah rousseau itu memunculkan sebuah buku yang sangat fenomenal dengan judul Emile. Karya ini berisi tentang pengamatan Rousseau terhadap anak asuhannya. Tapi terjadi perbedaan antara ilmuan yeng berkaitan anak yang diasuh rousseau itu anak sungguhan atau anak khayalan?? Nahh loh…. Itu aja masih di perdebatkan.. seandainya anak ini adalah anak sungguhan, sepertinya rousseau hanya memperkirakan perkambangan waktu ke waktu anak ini, tapi yang lebih parahnya lagi adalah jika anak ini anak khayalan?? heheheeee berarti cara pembuatan karyanya hanya menggunakan imajinasi seorang rouessau. Betul gak??


"Ilmu Perkiraan" atau "ilmu Khayalan"


Jundi Rabbani_Pesantren Guru

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tentang sebuah janji

Pernahkan melakukan percobaan sederhana dalam kelas IPA semasa sekolah ? prinsipnya setiap percobaan ialah membuktikan hasil teoritis dari sebuah ilmu ataupun topik tertentu. Misalnya percobaan sederhana mengenai gravitasi dengan sebuah bandul, dengan teori (sebuah persamaan) yang menghubungkan dengan periode bandul dengan gravitasi, nantinya hasil perhitungannya akan sekitar 9,8 m/s2 (di bumi). Sebuah pelajaran berarti ketika percobaan menepati ‘janji’ dari sebuah teori. Ya itulah sifat alamiah alam menepati janji.


Suatu ketika ada seorang pemuda musafir datang asing dari luar mekah bermaksud untuk melaksanakan umrah di zaman ke khalifahan Umar bin Khatab, di perjalannya unta miliknya memakan kebun seorang kakek, merasa kebunnya terancam lalu sang kakek membunuhnya. Hingga pemuda itu marah dan membunuh kakek itu.


keluarga sang kakek menuntuk qisas pada amirul mukminin Umar bin khatab, dan tiada pilihan lain pada pemuda itu untuk menerima hukuman itu. Kemudian pemuda itu meminta syarat, untuk pulang ke kampung halamannya dan meminta izin kepada ibunya karena pemuda ini meminta izin pada ibunya untuk bermusafir. Tetapi Umar bin Khatab, mengajukan syarat untuk ada seorang yang menjamin dirinya, jikalau pemuda itu tida menepati janji maka penjaminnya yang akan menerima qisas. Semua penduduk mekah tidak ada yang mau, hingga ada seorang sahabat utama memecah keheningan, Abu Dzar Al-Ghiffari berani menjamin pemuda itu. Benar saja keberanian abu Dzar menjamin pemuda itu menjadi perbincangan karena berani menjamin pemuda yang bukan dari mekah dan tidak diketahui asal usulnya.


Pada hari yang disepakati pemuda itu ditunggu, namun tidak kunjung datang hingga hari menjelang sore, terlihat kepulan debu sambil ditengahnya seorang pemuda menaiki unta denga tatapan wajah serius, ia sedang terburu-buru. Umar bertanya kepada pemuda itu,


“Mengapa kau kembali lagi ke sini anak muda? Padahal kau bisa menyelamatkan diri?”, Pemuda itu menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, aku

datang ke sini agar jangan sampai orang-orang berkata bahwa tidak ada lagi orang yang menepati janji di kalangan umat Islam.”


Lalu, Umar melangkah ke arah Abu Dzar Al-Ghiffari dan berkata, “Dan kau wahai Abu Dzar, bagaimana kau bisa yakin menjamin pemuda ini padahal kau tidak mengenalnya?”Abu Dzar menjawab, “Aku lakukan itu agar orang-orang tidak mengatakan bahwa tidak ada lelaki jantan yang bersedia berkorban untuk saudaranya seiman dalam umat Muhammad SAW.”


Mendengar itu semua,keluarga kakek yang terbunuh itu berkata, mencabut tuntutan qisasnya ,“Ini kami lakukan agar orang tidak mengatakan bahwa tidak ada lagi orang berjiwa besar yang mau memaafkan saudaranya di kalangan umat Muhammad SAW”.

Pelajaran penting untuk kita, janji ialah hal yang harus kita tepati karenaya mari perbaiki diri kita tidak terkecuali “Tentang Janji”.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS